4/20/20

Latihan soal2 : Mitigasi bencana

Labels:

Mitigasi gunung meletus


Gunung Meletus
Gunung meletus merupakan peristiwa yang terjadi akibat endapan magma di dalam perut bumi yang didorong keluar oleh gas yang bertekanan tinggi. Magma adalah cairan pijar yang terdapat di dalam lapisan bumi dengan suhu yang sangat tinggi, yakni diperkirakan lebih dari 1.000 °C. Cairan magma yang keluar dari dalam bumi disebut lava. Suhu lava yang dikeluarkan bisa mencapai 700-1.200 °C. Letusan gunung berapi yang membawa batu dan abu dapat menyembur sampai sejauh radius 18 km atau lebih, sedangkan lavanya bisa membanjiri sampai sejauh radius 90 km. Tidak semua gunung berapi sering meletus. Gunung berapi yang sering meletus disebut gunung berapi aktif.

Ciri – ciri gunung akan meletus :
Gunung berapi yang akan meletus dapat diketahui melalui beberapa tanda, antara lain

  1. Suhu di sekitar gunung naik. 
  2. Mata air menjadi kering 
  3. Sering mengeluarkan suara gemuruh, kadang disertai getaran (gempa) 
  4. Tumbuhan di sekitar gunung layu 
  5. Binatang di sekitar gunung bermigrasi


Hasil Letusan Gunung Berapi
Berikut adalah hasil dari letusan gunung berapi, antara lain :
Gas vulkanik
Gas yang dikeluarkan gunung berapi pada saat meletus. Gas tersebut antara lain Karbon monoksida (CO), Karbon dioksida (CO2), Hidrogen Sulfida (H2S), Sulfur dioksida (SO2), dan Nitrogen (NO2) yang dapat membahayakan manusia.
Lava dan aliran pasir serta batu panas
Lava adalah cairan magma dengan suhu tinggi yang mengalir dari dalam Bumi ke permukaan melalui kawah. Lava encer akan mengalir mengikuti aliran sungai sedangkan lava kental akan membeku dekat dengan sumbernya. Lava yang membeku akan membentuk bermacam-macam batuan.
Lahar
Lahar adalah lava yang telah bercampur dengan batuan, air, dan material lainnya. Lahar sangat berbahaya bagi penduduk di lereng gunung berapi.
Hujan Abu
Yakni material yang sangat halus yang disemburkan ke udara saat terjadi letusan. Karena sangat halus, abu letusan dapat terbawa angin dan dirasakan sampai ratusan kilometer jauhnya. Abu letusan ini bisa menganggu pernapasan.
Awan panas
Yakni hasil letusan yang mengalir bergulung seperti awan. Di dalam gulungan ini terdapat batuan pijar yang panas dan material vulkanik padat dengan suhu lebih besar dari 600 °C. Awan panas dapat mengakibatkan luka bakar pada tubuh yang terbuka seperti kepala, lengan, leher atau kaki dan juga dapat menyebabkan sesak napas.

Antispisai dan Evakuasi Bahaya Gunung Meletus
Persiapan dalam Menghadapi Letusan Gunung Berapi
1.      Mengenali daerah setempat dalam menentukan tempat yang aman untuk mengungsi 
2.      Membuat perencanaan penanganan bencana. 
3.      Mempersiapkan pengungsian jika diperlukan. 
4.      Mempersiapkan kebutuhan dasar


Jika Terjadi Letusan Gunung Berapi

  • Hindari daerah rawan bencana seperti lereng gunung, lembah dan daerah aliran lahar.
  • Ditempat terbuka, lindungi diri dari abu letusan dan awan panas. Persiapkan diri untuk kemungkinan bencana susulan.
  • Kenakan pakaian yang bisa melindungi tubuh seperti: baju lengan panjang, celana panjang, topi dan lainnya.
  • Jangan memakai lensa kontak.
  • Pakai masker atau kain untuk menutupi mulut dan hidung
  • Saat turunnya awan panas usahakan untuk menutup wajah dengan kedua belah tangan.


Setelah Terjadi Letusan Gunung Berapi

  •  Jauhi wilayah yang terkena hujan abu
  • Bersihkan atap dari timbunan abu. Karena beratnya, bisa merusak atau meruntuhkan atap bangunan.
  • Hindari mengendarai mobil di daerah yang terkena hujan abu sebab bisa merusak mesin


MITIGASI BENCANA GUNUNG BERAPI
Upaya memperkecil jumlah korban jiwa dan kerugian harta benda akibat letusan gunung berapi, tindakan yang perlu dilakukan :
1.     Pemantauan, aktivitas gunung api dipantau selama 24 jam menggunakan alat pencatat gempa (seismograf). Data harian hasil pemantauan dilaporkan ke kantor Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) di Bandung dengan menggunakan radio komunikasi SSB. Petugas pos pengamatan Gunung berapi menyampaikan laporan bulanan ke pemda setempat. 
2.     Tanggap Darurat, tindakan yang dilakukan oleh DVMBG ketika terjadi peningkatan aktivitas gunung berapi, antara lain mengevaluasi laporan dan data, membentuk tim Tanggap Darurat, mengirimkan tim ke lokasi, melakukan pemeriksaan secara terpadu. 
3.      Pemetaan, Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung berapi dapat menjelaskan jenis dan sifat bahaya gunung berapi, daerah rawan bencana, arah penyelamatan diri, lokasi pengungsian, dan pos penanggulangan bencana 
4.      Penyelidikan gunung berapi menggunakan metoda Geologi, Geofisika, dan Geokimia. Hasil penyelidikan ditampilkan dalam bentuk buku, peta dan dokumen lainya. 
5.      Sosialisasi, petugas melakukan sosialisasi kepada Pemerintah Daerah serta masyarakat terutama yang tinggal di sekitar gunung berapi. Bentuk sosialisasi dapat berupa pengiriman informasi kepada Pemda dan penyuluhan langsung kepada masyarakat.


Labels:

Mitigasi bencana Tanah longsor


Mitigasi Bencana Tanah Longsor Menurut BNBP

Indonesia merupakan negara yang terletak di garis khatulistiwa dan beriklim tropis, memiliki dua musim yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Pada saat musim hujan, hujan bisa turun sepanjang hari bahkan berhari-hari. Intensitas curah hujan yang tinggi dan menyebabkan bencana alam seperti banjir, tanah longsor dan puting beliung.
Sepanjang tahun 2019 lalu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 3.814 bencana di Indonesia mulai 1 Januari hingga 31 Desember 2019. Diketahui terdapat 719 kasus tanah longsor yang telah terjadi. Sedangkan per Februari 2020, kasus tanah longsor mencapai 130 kali, bencana alam nomor tiga tertinggi setelah banjir dan putting beliung.
Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, tanah longsor merupakan perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran yang bergerak ke bawah atau keluar lereng.
Bencana tanah longsor kerap dipicu karena kombinasi dari curah hujan yang tinggi, lereng yang terjal, tanah yang kurang padat dan tebal, terjadinya pengikisan tanah, berkurangnya tutupan vegetasi, serta adanya getaran.
Biasanya tanah longsor terjadi begitu cepat sehingga menyebabkan waktu untuk mengevakuasi diri sendiri cukup singkat. Tanah yang longsor beserta materialnya dapat menimpa bangunan, jalan maupun apa saja yang berada di bawahnya.
Oleh sebab itu diperlukan pengetahuan perihal kesiapan menghadapi bencana untuk meminimalisir berjatuhannya korban. Berikut langkah-langkahnya menurut Buku Saku Menghadapi Bencana tanah longsor dari BNBP:
Langkah Prabencana atau Sebelum Terjadi Bencana Tanah Longsor
Mencegah lebih baik daripada mengobati. Untuk mencegah terjadi bencana tanah longsor, ikuti beberapa langkah berikut ini:
  • Mengurangi tingkat keterjalan lereng permukaan maupun air tanah. Perhatikan fungsi drainase adalah untuk menjauhkan air dari lereng, menghindari air meresap ke dalam lereng atau menguras air ke dalam lereng ke luar lereng. Jadi drainase harus dijaga agar jangan sampai tersumbat atau meresapkan air ke dalam tanah.
  • Membuat bangunan penahan, jangkar (anchor) dan pilling.
  • Menghindari membangun rumah, fasilitas umum atau pemukiman di daerah yang rawan terjadi bencana.
  • Membuat terasering dengan sistem drainase yang tepat (drainase pada teras - teras dijaga jangan sampai menjadi jalan meresapkan air ke dalam tanah).
  • Melakukan penghijauan dengan tanaman yang sistem perakarannya dalam menembus tanah dan jarak tanam yang tepat (khusus untuk lereng curam, dengan kemiringan lebih dari 40 derajat atau sekitar 80% sebaiknya tanaman tidak terlalu rapat serta diseling-selingi dengan tanaman yang lebih pendek dan ringan, di bagian dasar ditanam rumput).
  • Apabila hendak mendirikan bangunan, upayakan memiliki fondasi yang kuat.
  • Melakukan pemadatan tanah di sekitar perumahan terutama yang paling dekat dengan daerah rawan longsor. Selain itu lakukan sosialisasi atau pengenalan daerah yang rawan longsor.
  • Membangun tanggul penahan untuk runtuhan batuan (rock fall).
  • Penutupan rekahan di atas lereng untuk mencegah air masuk secara cepat ke dalam tanah.
  • Pondasi tiang pancang sangat disarankan untuk menghindari bahaya liquefaction (infeksi cairan).
  • Utilitas yang ada di dalam tanah harus bersifat fleksibel.
  • Dalam beberapa kasus relokasi sangat disarankan. Menanami kawasan yang gersang dengan tanaman yang memiliki akar kuat, banyak dan dalam seperti nangka, durian, pete, kaliandra dan sebagainya.
Selain itu perhatikan juga beberapa aspek berikut:
  • Tidak mendirikan bangunan permanen di daerah tebing dan tanah yang tidak stabil (tanah gerak).
  • Membuat selokan yang bisa mengalirkan air hujan sehingga air tidak meresap ke tanah yang berkemungkinan longsor.
  • Selalu waspada dan bersiap dan sedia ketika curah hujan tinggi.
  • Jangan membiarkan hutan gundul atau pun melakukan penebangan sehingga membuat tanah tak punya penopang.
Langkah Saat Terjadi Bencana Tanah Longsor

Ada dua hal penting yang harus diperhatikan saat terjadi bencana. Ikuti dua langkah ini dengan tenang, tanpa menimbulkan kepanikan berlebih:
  • Apabila anda mendengar suara gemuruh terutama apabila rumah Anda di dekat lereng mauapun tanah yang rawan longsor, segera evakuasi untuk menjauhi suara gemuruh atau arah datangnya longsoran.
  • Apabila mendengar suara sirine peringatan longsor, segera evakuasi ke arah zona evakuasi yang telah ditentukan. (Beberapa wilayah di Indonesia telah terpasang Sistem Peringatan Dini Longsor).

Langkah Setelah Terjadi Bencana Tanah Longsor
Apabila sudah melakukan langkah evakuasi diri dan pengaman yang bisa dilakukan sendiri saat bencana terjadi, jangan panik setelah bencana selesai. Ikuti langkah-langkah berikut ini:
  • Meski longsor sudah terjadi, belum tentu ada pohon maupun material lain yang akan menyusul jatuh, sehingga hindari wilayah longsor karena kondisi tanah yang labil.
  • Apabila hujan turun setelah longsor terjadi, antisipasi longsor susulan.



Labels: