TEORI BELAJAR

Dalam proses belajar mengajar, penguasaan seorang guru dan cara menyampaikannya merupakan syarat yang sangat esensial. Penguasaan guru terhadap materi pelajaran dan pengelolaan kelas sangatlah penting, namun demikian belum cukup untuk menghasilkan pembelajaran yang optimal. Selain menguasai materi guru sebaiknya menguasai tentang teori-teori belajar, agar dapat mengarahkan peserta didik berpartisipasi secara intelektual dalam belajar sehingga belajar menjadi bermakna bagi siswa. Hal ini sesuai denga nisi lampiran Permendiknas nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, yang menyebutkan bahwa penguasaan teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik menjadi salah satu unsur kompetensi pedagogic yang harus dimiliki guru.
Teori belajar atau Psikologi belajar adalah teori yang mempelajari perkembangan intelektual (mental) siswa. Di dalamnya terdiri dari :
1. Uraian tentang apa yang terjadi dan diharapkan yang terjadi pada intelektual peserta didik
2. Uraian tentang kegiatan intelektual anak mengenai hal-hal yang bias dipikirkan pada usia tertentu.
Psikologi belajar, dalam perkembangannya ada 2 aliran yakni aliran psikologi tingkah laku (behavioristic) dan aliran psikologi kognitif.

1. Teori belajar behavioristic
Orton (1987 : 38), teori belajar tingkah laku sebagai suatu keyakinan bahwa pembelajaran terjadi melalui hubungan stimulus (rangsangan) dan respon (response). Berikut dipaparkan empat teori belajar tingkah laku yaitu teori belajar dari :
a. Thorndike
b. Skinner
c. Pavlov
d. Bandura

a.Teori Belajar Thorndike
Edward Lee Thorndike (1874 – 1949) mengemukakan beberapa hokum belajar yang dikenal dengan sebutan Law of effect. Belajar akan lebih berhasil bila respon siswa terhadap stimulus segera diikuti dengan rasa senang/kepuasaan. Rasa senang ini bias muncul sebagai akibat anak mendapatkan pujian atau ganjaran lainnya. Stimulus ini termasuk reinforcement. Setelah anak berhasil melaksanakan tugasnya dengan tepat dan cepat, pada diri anak muncul kepuasaan diri sebagai akibat sukses yang diraihnya. Anak memperoleh suatu kesuksesan yang pada gilirannnya akan mengantarkan dirinya ke jenjang kesuksesan berikutnya.
Teori belajar stimulus-respon yang dikemukakan oleh Thorndike ini disebut juga teori belajar koneksionisme. Terdapat beberapa dalil atau hokum yang terkait dengan teori koneksionisme yaitu hokum kesiapan (law of readiness), hokum latihan (law of exercise) dan hokum akibat (law of effect).
1) Hukum Kesiapan (law of readiness), menjelaskan kesiapan siswa melakukan suatu kegiatan kalau sudah siap secara fisik (anak) dan psikis (dewasa).
2) Hukum latihan (law of exercise), menggunakan dasar bahwa stimulus dan respon akan memiliki hubungan satu sama lain secara kuat, jika proses pengulangan sering terjadi, makin banyak kegiatan ini dilakukan maka hubungan yang terjadi akan bersifat otomatis. Seorang anak yang dihadapkan pada suatu persoalan yang sering ditemuinya akan segera melakukan tanggapan secara cepat sesuai dengan pengalamannya pada waktu sebelumnya.
3) Hukum akibat (law of effect), menjelaskan bahwa apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. Hal ini berarti bahwa kepuasaan maka terlahir dari adanya ganjaran dari guru akan memberikan kepuasaan bagi anak, dan anak cenderung untuk berusaha melakukan atau meningkatkan apa yang telah dicapainya.
Selanjutnya Thorndike mengemukakan hokum tambahan, sbb:
1. Hukum reaksi bervariasi (law of multiple response)
Individu diawali dengan proses trial and error, yang menunjukkan bermacam-macam respon sebelum memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
2. Hukum sikap (law of attitude)
Perilaku belajar seseorang tidak hanya ditentukan oleh hubungan stimulus dan respon saja, tetapi juga ditentukan oleh keadaan yang ada dalam diri individu baik kognitif,emosi,social maupun psikomotoriknya.
3. Hukum aktivitas berat sebelah (law of prepotency element)
Individu dalam proses belajar memberikan respons pada stimulus tertentu saja sesuai dengan persepsinya terhadap keseluruhan situasi/bersifat subyektif (respon selektif)
4. Hukum respon melalui analogi (law of response by analogy)
Individu dapat melakukan respon pada situasi yang belum pernah dialami Karena individu sesungguhnya dapat menghubungkan situasi yang belum pernah dialami dengan situasi lama yang pernah dialami sehingga terjadi transfer atau perpindahan unsur-unsur yang telah dikenal ke situasi baru. Semakin banyak unsur yang sama maka transfer akan semakin mudah. Hukum ini disebut juga sebagai Transfer of learning/Transfer of Identical Element. Contoh : Orang bisa bersepeda cenderung akan cepat belajar motor.
5. Hukum perpindahan asosiasi
Proses peralihan dari situasi yang dikenal ke situasi yang belum dikenal dilakukan secara bertahap dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit unsur lama.
Thorndike, kemudian menambahkan dan merevisi hokum belajar, anatara lain:
1) Hukum latihan ditinggalkan Karena ditemukan pengulangan saja tidak cukup untuk memperkuat hubungan stimulus-respon
2) Hukum akibat direvisi, Karena dalam penelitiannya lebih lanjut ditemukan bahwa hanya sebagian saja dari hukum ini yang benar. Jika diberikan reward maka akan meningkatkan hubungan stimulus-respon, sedangkan jika diberikan hukuman/punishment tidak berakibat apa-apa.
3) Syarat utama terjadinya hubungan stimulus-respons bukan kedekatan, tetapi adanya saling sesuai antara stimulus dan respons.
4) Akibat suatu perbuatan dapat menular baik pada bidang lain maupun pada individu lain
Implikasi dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari adalah bahwa :
1. Untuk menjelaskan suatu konsep, guru sebaiknya mengambil contoh yang sekiranya sudah sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Alat peraga dari alam sekitar akan lebih dihayati.
2. Metode pemberian tugas, metode latihan (drill dan practice) akan cocok untuk penguatan dan hafalan. Dengan penerapan metode tersebut siswa akan lebih banyak mendapatkan stimulus sehingga respon yang diberikan akan lebih banyak pula.
3. Hierarkis penyusunan komposisi materi dalam kurikulum merupakan hal yang penting. Materi disusun dari materi mudah, sedang dan sukar sesuai dengan tingkat kelas dan tingkat sekolah. Penguasaan materi yang lebih mudah sebagai akibat untuk dapat menguasai materi yang lebih sukar. Dengan kata lain topik/konsep prasyarat harus dikuasai dulu agar dapat memahami topik berikutnnya.

b. Teori belajar Pavlov
Pavlov terkenal dengan teori belajar klasik. Pavlov mengemukakan konsep pembiasaan (conditioning). Terkait konteks dengan kegiatan belajar mengajar, agar siswa belajar dengan baik maka harus dibiasakan. Misalnya, agar siswa mengerjakan soal PR dengan baik, biasakanlah dengan memeriksanya, menjelaskannya atau memberi nilai terhadap hasil pekerjaannya.

c. Teori belajar Skinner
Burhus Frederic Skinner menyatakan bahwa ganjaran atau penguatan mempunyai peranan yang amat penting dalam proses belajar. Ganjaran merupakan respon yang sifatnya menggembirakan dan merupakan tingkah laku yang sifatnya subjektif, sedangkan penguatan merupakan sesuatu yang mengakibatkan meningkatnya kemungkinan suatu respon dan lebih mengarah pada hal-hal yang dapat diamati dan diukur. Penguatan terdiri penguatan positif dan penguatan negative. Skinner menambahkan bahwa jika respon siswa baik (menunjang efektifitas pencapaian tujuan) harus segera diberi penguatan positif agar respon tersebut lebih baik lagi atau minimal perbuatan baik itu dipertahankan. Sebaliknya jika respon siswa kurang atau tidak diharapkan sehingga tidak menunjang tujuan pengajaran, harus segera diberi penguatan negative agar respon tersebut tidak diulangi lagi dan berubah menjadi respon yang sifatnya positif. Penguatan negative ini bias berupa teguran, peringatan atau sanksi (hukuman edukatif)

d. Teori belajar Bandura
Bandura mengemukakan bahwa siswa belajar melalui meniru atau prinsip imitasi. Meniru di sini bukan berarti menyontek tetapi meniru hal-hal yang dilakukan oleh orang lain, terutama guru.
Bandura memandang tingkah laku manusia bukan semata-mata reflex otomatis atas stimulus, melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri. Teori belajar social dari Bandura ini merupakan gabungan antara teori balajar behavioristic dengan penguatan dan psikologi kognitif, dengan prinsip modifikasi perilaku.
Teori belajar social (social Learning Theory) dari Bandura didasarkan pada tiga konsep, yaitu :
1. Reciprocal determinism
Pendekatan yang menjelaskan tingkah laku manusia dalam bentuk interaksi timbal balik yang terus menerus antara kognitif, tingkah laku dan lingkungan. Orang menentukan/mempengaruhi tingkah lakunya dengan mengontrol lingkungan, tetapi orang itu juga dikontrol oleh kekuatan lingkungannnya.
2. Beyond reinforcement
Reinforcement penting dalam menentukan apakah suatu tingkah laku akan terus terjadi atau tidak, tetapi itu bukan satu-satunya pembentuk tingkah laku. Orang dapat belajar melakukan sesuatu hanya dengan mengamati dan kemudian mengulang apa yang dilihatnya. Belajar melalui observasi tanpa ada reinforcement yang terlibat, berarti tingkah laku ditentukan oleh antisipasi konsekuensi.
3. Self-regulation/cognition
Teori belajar tradisional sering terhalang oleh ketidaksenangan atau ketidakmampuan mereka menjelaskan proses kognitif. Konsep Bandura menempatkan manusia sebagai pribadi yang dapat mengatur diri sendiri (self regulation), mempengaruhi tingkah laku dengan cara mengatur lingkungan, menciptakan dukungan kognitif dan mengadakan konsekuensi bagi tingkah lakunya sendiri.
Prinsip dasar belajar social (social learning) adalah:
1. Sebagian besar dari yang dipelajari manusia terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modelling)
2. Siswa mengubah perilaku sendiri melalui penyaksian cara orang/sekelompok orang yang mereaksi/merespon sebuah stimulus tertentu
3. Siswa dapat mempelajari respon-respon baru dengan cara pengamatan terhadap perilaku contoh dari orang lain, misalnya guru/orang tuanya.
Pendekatan teori belajar social terhadap proses perkembangan social dan moral siswa ditekankan pada perlunya pembiasaan merespons (conditioning) dan peniruan (imitation).
Teori belajar social memiliki banyak implikasi untuk penggunaan di dalam kelas, yaitu :
1. Siswa sering belajar hanya dengan mengamati orang lain, yaitu guru
2. Menggambarkan konsekuensi perilaku yang dapat secara efektif meningkatkan perilaku yang sesuai dan menurunkan yang tidak pantas. Hal ini dapat melibatkan berdiskusi dengan siswa tentang imbalan dan konsekuensi dari berbagai perilaku.
3. Modelling menyediakan alternative untuk membentuk perilaku baru untuk mengajar. Untuk mempromosikan model yang efektif, seorang guru harus memastikan bahwa empat kondisi esensial ada, yaitu perhatian, retensi, motor reproduksi dan motivasi.
4. Guru dan orang tua harus menjadi model perilaku yang sesuai dan berhati-hati agar mereka tidak meniru perilaku yang tidak pantas
5. Siswa harus percaya bahwa mereka mampu menyelesaikan tugas-tugas sekolah, sehingga sangat penting untuk mengembangkan rasa efektifitas diri untuk siswa. Guru dapat meningkatkan rasa efektifitas diri siswa dengan cara menumbuhkan rasa percaya diri siswa, memperlihatkan pengalaman orang lain menjadi sukses dan menceritakan pengalaman sukses guru atau siswa itu sendiri
6. Guru harus membantu siswa menetapkan harapan yang realistis untuk prestasi akademiknya.
7. Teknik pengaturan diri menyediakan metode yang efektif untuk meningkatkan perilaku siswa.

2. Teori Belajar Vygotsky
Menurut pandangan konstruktivisme tentang belajar, individu akan menggunakan pengetahuan dan pengalaman pribadi yang telah dimilikinya untuk membantu memahami masalah atau materi baru.
Lev Semenovich Vygotsky merupakan tokoh penting dalam konstruktivisme social. Vygotsky menyatakan bahwa siswa dalam mengkonstruksi suatu konsep perlu memperhatikan lingkungan social. Ada dua konsep penting menurut Vygotsky, yaitu Zone of Proximal Development (ZPD) dan Scaffolding.
ZPD merupakan jarak antara tingkat perkembangan actual (yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah secara mandiri) dan tingkat perkembangan potensial (yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerja sama dengan teman sejawat yang lebih mampu). Yang dimaksud dengan orang dewasa adalah guru atau orang tua.
Scaffolding merupakan pemberian sejumlah bantuan kepada siswa selama tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setekah ia dapat melakukannnya. Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk, dorongan, peringatan, menguraikan masalah ke dalam langkah-langkah pemecahan, memberikan contoh dan tindakan-tindakan lain yang memungkinkan siswa itu belajar mandiri.

3. Teori Belajar Van Hiele
Teori belajar yang menguraikan tahap-tahap perkembangan mental anak, beliau melakukan penelitian dalam pembelajaran geometri. Penelitian yang dilakukan Van Hiele melahirkan beberapa kesimpulan mengenai tahap-tahap perkembangan kognitif anak dalam memahami geometri, Van Hiele menyatakan bahwa terdapat 5 tahap pemahaman geometri yaitu : pengenalan, analisis, pengurutan, deduksi dan akurasi.

4. Teori Belajar Ausubel
David Ausubel adalah seorang ahli psikologi pendidikan. Ausubel memberi penekanan pada proses belajar yang bermakna. Teori belajar Ausubel terkenal dengan belajar bermakna dan pentingnya pengulangan sebelum belajar dimulai, diklasifikasikan menjadi dua dimensi yaitu: Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran yang disajikan pada siswa melalui penerimaan atau penemuan. Dimensi kedua menyangkut cara bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada, meliputi fakta, konsep dan generalisasi yang telah dipelajari dan diingat oleh siswa.
Penerapan dalam pembelajaran
Untuk menerapkan teori Ausubel dalam pembelajaran, Dadang Sulaeman (1988) menyarankan agar menggunakan dua fase, yakni fase perencanaan dan fase pelaksanaan. Fase perencanaan terdiri dari menetapkan tujuan pembelajaran, mendiagnosis latar belakang pengetahuan siswa, membuat struktur materi dan memformulasikan pengaturan awal. Sedangkan fase pelaksanaan dalam pembelajaran terdiri dari pengaturan awal, diferensiasi progresif, dan rekonsiliasi integrative.

5. Teori Belajar Bruner

Jerome Bruner adalah seorang ahli psikologi perkembangan dari Universitas Harvard, AS yang telah mempelopori aliran psikologi belajar kognitif yang memberikan dorongan agar pendidikan memberikan perhatian pada pentingnya pengembangan berfikir. Bruner banyak memberikan pandangan mengenai perkembangan kognitif manusia, bagaimana manusia belajar atau memperoleh pengetahuan, menyimpan pengetahuan dan mentransformasikan pengetahuan. Dalam mempelajari manusia, ia menganggap manusia sebagai pemroses, pemikir dan pencipta informasi.
Dalam bukunya (Bruner:1960) mengemukakan empat tema pendidikan, yakni:
1. Pentingnya arti struktur pengetahuan
2. Kesiapan (readiness) untuk belajar, menurut Bruner kesiapan mencakup atas penguasaan ketrampilan-ketrampilan yang lebih sederhana yang memungkinkan seorang untuk mencapai ketrampilan-ketrampilan yang lebih tinggi.
3. Nilai Intuisi dalam proses pendidikan. Intuisi adalah teknik-teknik intelektual untuk sampai pada formulasi-formulasi tentative tanpa melalui langkah-langkah analitis untuk mengetahui apakah formulasi-formulasi itu merupakan kesimpulan-kesimpulan yang sahih atau tidak.
4. Motivasi atau keinginan untuk belajar beserta cara-cara yang dimilki para guru untuk merangsang motivasi itu.

Belajar sebagai Proses Kognitif
Menurut Bruner dalam belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan. Ketiga proses tersebut adalah 1) memperoleh informasi baru, 2) transformasi informasi, dan 3) menguji relevan informasi dan ketepatan pengetahuan.
Bruner (1966) mengemukakan bahwa terdapat tiga system ketrampilan untuk menyatakan kemampuan-kemampuan secara sempurna. Ketiga system ketrampilan itu adalah yang disebut tiga cara penyajian (modes of present) yaitu:
a. Cara penyajian enaktif, adalah melalui tindakan anak terlibat secara langsung dalam memanipulasi (mengotak atik) objek. Anak belajar sesuatu pengetahuan secara aktif dengan menggunakan benda-benda konkret atau situasi nyata.
b. Cara penyajian ikonik, didasarkan pada pikiran internal dimana pengetahuan disajikan melalui serangkaian gambar, grafik yang merupakan gambaran dari objek-objek yang dimanipulasinya.
c. Cara penyajian simbolik, didasarkan pada system berfikir abstrak, arbiter dan lebih fleksibel.
Penerapan dalam pembelajaran
Bruner memberikan arahan bagaimana peran guru dalam menerapkan belajar penemuan pada siswa, sbb:
1. Merencanakan materi pelajaran yang diperlukan sebagai dasar bagi siswa untuk memecahkan masalah. Guru hendaknya menggunakan sesuatu yang sudah dikenal siswa, kemudian guru mengemukakan sesuatu yang berlawanan, sehingga terjadi konflik dengan pengalaman siswa. Akibatnya muncul permasalahan yang akan merangsang siswa untuk menyelidiki masalah itu, menyusun hipotesis-hipotesis, dan mencoba menemukan konsep atau prinsip yang mendasari masalah tersebut.
2. Urutan pengajaran hendaknya menggunakan cara penyajian enaktif, ikonik kemudian simbolik Karena perkembangan intelektual siswa diasumsikan mengikuti urutan enaktif, ikonik dan simbolik.
3. Pada saat siswa memecahkan masalah, guru hendaknya menjadi pembimbing atau tutor. Guru hendaknya tidak mengungkap terlebih dahulu prinsip atau aturan yang akan dipelajari, guru hendaknya memberikan saran jika diperlukan. Sebagai tutor guru sebaiknya memberikan umpan balik pada saat yang tepat untuk perbaikan siswa.
4. Dalam menilai hasil belajar bentuk tes dapat dapat berupa tes objektif atau tes essay, Karena tujuan pembelajaran tidak dirumuskan secara mendetail.
Tujuan pembelajaran penemuan adalah mempelajari generalisasi-generalisasi dengan menemukan sendiri generalisasi-generalisasi itu.



Previous
Next Post »
0 Komentar